Posts Tagged ‘syaraf’

Retina

Retina melapisi 2/3 bagian dalam dinding bola mata, merupakan membran tipis, transparan, dan berbentuk seperti jala atau jaring. Retina merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang menerima rangsangan cahaya.

Susunan histologis retina terdiri atas :

1. Epitel pigmen, merupakan lapisan terluar, satu lapis dan melekat erat pada koroid.

2. Lapisan retina sensoris, jauh lebih tebal, mulai dari papil n. II sampai ora serata.

Bagian retina yang mengandung sel-sel epitel dan retina sensoris disebut pars optika, yaitu bagian yang dapat untuk melihat. Bagian retina yang hanya terdiri atas sel-sel epitel pigmen, yang meluas dari ora serata sampai tepi belakang papil n. II disebut pars seka retina, yaitu bagian yang buta, dan hal ini harus dibedakan dari bintik buta.

Read More
Posted On: December 12th, 2009
Posted In: anatomi
Comments: No Responses

Mekanisme Akomodasi Mata

Mekanisme akomodasi yaitu mekanisme yang memfokuskan system lensa dari mata, penting untuk meningkatkan ketajaman mata. Akomodasi terjadi akibat kontraksi atau relaksasi muskulus siliaris, kontraksi menyebabkan peningkatan system lensa, dan relaksasi menyebabkan penurunan kekuatan.

Akomodasi lensa diatur oleh mekanisme umpan balik negatif yang secara otomatis mengatur kekuatan fokal lensa untuk tingkat tajam penglihatan yang paling tinggi. Bila mata difiksasi pada beberapa objek yang jauh, kemudian difiksasi pada beberapa objek yang dekat, biasanya lensa akan berakomodasi untuk tajam penglihatan maksimum dalam waktu kurng dari 1 detik.

Read More
Posted On: March 25th, 2009
Posted In: Ilmu Penyakit Mata
Comments: No Responses

Nyeri

Nyeri merupakan mekanisme untuk melindungi tubuh terhadap suatu gangguan dan kerusakan di jaringan seperti peradangan, infeksi jasad renik dan kejang otot dengan pembebasan mediator nyeri yang meliputi prostaglandin, bradikinin, serotonin, histamine, ion kalsium dan asetilkolin (Tjay dan Rahardja, 2002). Menurut International Assosiation for The Study of Pain (IASP), nyeri didefinisikan sebagai sensasi yang tidak mengenakkan dan biasanya diikuti oleh pengalaman tertentu yang erat kaitannya dengan derajat kerusakan. Nyeri seringkali dikatakan sebagai respon terhadap stimulus yang merusak jaringan (misalnya: trauma fisik, mekanik, kimiawi, termal) dan kemudian menimbulkan aktivasi reseptor nyeri (nosiseptor) (Sujatno, 1998). Nosiseptor berupa akhiran saraf bebas tersebar di kulit, periosteum, dinding arteri, permukaan sendi, falk dan tentorium, rongga kranium. Nosiseptor mempunyai sifat tidak beradaptasi terhadap rangsang sehingga reseptor tetap dapat memberitahukan kepada individu tersebut akan adanya rangsang yang merusak (Mutchler, 1991). Ternyata, pada beberapa kondisi, eksitasi serabut rasa nyeri semakin bertambah secara progresif, terutama pada nyeri lambat, karena stimulus rasa nyeri berlangsung terus-menerus. Keadaan ini dapat meningkatkan sensitifitas reseptor rasa nyeri yang disebut hiperalgesia. Reseptor nyeri kebanyakan sensitif terhadap lebih dari satu stimulus walaupun ada beberapa reseptor nyeri yang hanya sensitif terhadap satu jenis stimulus (Guyton, 2000).

Read More
Posted On: March 24th, 2009
Posted In: Fisiologi
Comments: 1 Response