Antagonis reseptor H2 diperkenalkan pada pertengahan tahun 1970-an, senyawa ini telah digunakan secara luas. Empat obat yang digunakan di AS : simetidin, ranitidin, famotidin dan nizatidin. Pemberian dosis tunggal obat-obat ini mampu mereduksi lebih dari 90 % dalam basal, rangsangan makanan dan sekresi nokturnal asam lambung. Banyak percobaan telah memperlihatkan keefektifannya dalam meningkatkan proses penyembuhan ulkus lambung dan ulkus duodenum serta mencegah kekambuhan penyakit (Katzung, 1997).
Read More
Posted On:
April 14th, 2009
Posted In:
Farmakologi
Comments:
No Responses
Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) sudah lama dikenal sebagai salah satu faktor agresif eksogen yang menyebabkan kerusakan sawar (barier) mukosa lambung, baik secara lokal maupun sistemik (Wongso dkk., 1992). Aspirin adalah asam organik lemah yang unik diantara obat-obat AINS dalam asetilasi (dan juga inaktivasi) siklooksigenase ireversibel. AINS lain termasuk salisilat, semuanya penghambat siklooksigenase reversible. Aspirin cepat dideasetilasi oleh esterase dalam tubuh, menghasilkan salisilat, yang mempunyai efek anti-inflamasi, anti-piretik, dan analgesik (Mycek dkk., 2001).
Read More
Posted On:
April 13th, 2009
Posted In:
Farmakologi
Comments:
8 Responses
Pengobatan ulkus peptikum mulai ditujukan untuk memperkuat mekanisme defensif mukosa lambung duodenum, yakni dengan obat-obat sitoproteksi. Obat sitoproteksi bermula dari prostaglandin didefinisikan sebagai obat yang dapat mencegah atau mengurangi kerusakan mukosa lambung atau duodenum oleh berbagai zat ulserogenik atau zat penyebab nekrosis, tanpa menghambat sekresi atau menetralkan asam lambung. Jadi, obat sitoproteksi dapat mencegah kerusakan mukosa lambung secara acid-mediated (misalnya aspirin) maupun secara acid-independent (misalnya oleh alkohol). H-bloker tidak termasuk obat sitoproteksi yang efektif untuk mencegah kerusakan mukosa yang acid-mediated (Setiawati, 1992).
Read More
Posted On:
April 13th, 2009
Posted In:
Farmakologi
Comments:
No Responses
Analgetika adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (Dorland, 2000). Menurut Tjay dan Rahardja (2002) atas dasar kerja farmakologisnya, analgetika dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu analgetika opioid dan analgetika perifer (non opioid).
Analgetika Opioid
Merupakan zat yang bekerja pada reseptor opioid khas di SSP, hingga persepsi nyeri dan respon emosional terhadap nyeri berubah (dikurangi) (Tjay dan Rahardja, 2002). Analgesik opioid memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin (Sujatno, 1998).
Read More
Posted On:
April 12th, 2009
Posted In:
Farmakologi
Comments:
No Responses
Obat AINS adalah salah satu golongan obat besar yang secara kimia heterogen menghambat aktivitas siklooksigenase, menyebabkan penurunan sintesis prostaglandin dan prekursor tromboksan dari asam arakidonat (Dorland, 2002).
Obat AINS pertama kali diperkenalkan pada tahun 1899. Obat AINS yang pertama adalah asam asetil salisilat yang diproduksi oleh Felix Hoffman dari Bayer Industries. Berdasarkan saran dari Hermann Dreser, senyawa tersebut diberi nama aspirin yang berasal dari gabungan kata bahasa Jerman untuk senyawa, acetylspirsäure (spirea = nama genus tanaman asal obat tersebut, dan Säure = asam) (Wolfe, et al., 1999; Katzung & Payan, 1998).
Read More
Posted On:
April 12th, 2009
Posted In:
Farmakologi
Comments:
No Responses